Posted On July 29, 2026

Saat Ratusan Siswa Merasakan Pengalaman yang Dulu Hanya untuk Juara Lomba

admin 0 comments
>> Uncategorized >> Saat Ratusan Siswa Merasakan Pengalaman yang Dulu Hanya untuk Juara Lomba

Penulis: Agus Prianto, S.T., M.Pd. (Guru SMK Telkom Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah)

Pendahuluan

Suatu siang di ruang kelas X TJKT, saya berdiri di samping sekelompok siswa yang sedang asyik memegang kabel fiber optik. Mereka mencocokkan warna, menghubungkan konektor, dan mencatat hasil pengukuran pada lembar kerja. Wajah mereka serius, tetapi mata mereka berbinar—seperti peserta lomba yang saya bimbing selama bertahun-tahun. Seorang siswa, Faza, berteriak dengan antusias, “Pak, saya bisa! Lampu LED-nya nyala semua!”

Di lain sudut, sekelompok siswa lain sedang berdiskusi sengit. “Kok hasil pengukuran kita beda dengan kelompok sebelah?” tanya salah satu dari mereka. Mereka mengulangi pengukuran, memeriksa kembali sambungan, dan akhirnya menemukan bahwa ada satu konektor yang tidak terpasang sempurna. Mereka tertawa lega dan menuliskan analisisnya di laporan.

Saya menyaksikan semuanya dengan perasaan hangat bercampur haru. Bukan karena ada yang istimewa dari media yang mereka gunakan—sebuah panel sederhana dari papan triplex bekas yang saya rakit sendiri di sela-sela kesibukan mengajar. Bukan karena alat yang mereka pegang mahal—kabel-kabel itu adalah sisa dari perlombaan yang sudah usang. Yang membuat saya haru adalah satu kenyataan: selama ini, pengalaman seperti ini hanya dirasakan oleh dua atau tiga siswa yang terpilih mengikuti pembinaan Lomba Kompetensi Siswa. Selebihnya? Mereka hanya menonton.

Hari itu, 118 siswa kelas X Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi di SMK Telkom Purwokerto merasakan pengalaman yang dulu hanya untuk “juara”. Dan saya percaya, di sinilah perjuangan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dimulai: dari ruang kelas, satu siswa, satu kabel, satu langkah pada satu waktu.



Pembahasan

Kesenjangan yang Mengganggu Pikiran Saya

Sejak pertama kali mengajar mata pelajaran Dasar Program Kejuruan di SMK Telkom Purwokerto, saya dihadapkan pada realitas yang cukup mengganggu. Kelas X terdiri dari 118 siswa yang terbagi dalam lima rombongan belajar. Jumlah yang tidak sedikit. Dengan kondisi sekolah yang dinamis, kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di ruang yang sama. Perpindahan ruang kerap terjadi. Sebagai guru produktif, saya harus membawa berbagai peralatan praktik dari satu lokasi ke lokasi lain—kabel, konektor, crimping tool, LAN tester, dan berbagai komponen jaringan yang tidak ringan.

Hasilnya? Banyak waktu yang seharusnya untuk belajar justru tersita untuk persiapan alat. Kesempatan siswa untuk praktik menjadi terbatas. Tidak semua siswa memperoleh pengalaman yang sama. Pada asesmen diagnostik awal yang saya lakukan secara lisan kepada 118 siswa, rata-rata pemahaman mereka terhadap konsep dasar jaringan komputer dan telekomunikasi hanya mencapai 46 persen. Sebagian besar masih kesulitan membedakan kabel UTP dan fiber optik, apalagi memahami cara terminasi dan pengukuran.

Namun, yang paling mengganggu saya bukanlah angka 46 persen itu. Yang paling mengganggu adalah pengalaman saya sebagai pembimbing LKS bidang Information Network Cabling.

Selama bertahun-tahun membimbing siswa untuk lomba, saya melihat betapa transformatifnya pengalaman praktik yang mendalam dan menantang. Siswa yang saya bimbing tumbuh luar biasa: mereka belajar ketelitian, kedisiplinan, pemecahan masalah, dan tanggung jawab. Mereka tidak sekadar memahami teori, tetapi menguasai keterampilan teknis dengan standar yang sangat tinggi. Mereka belajar bekerja seperti profesional.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa pengalaman sebaik ini hanya untuk dua atau tiga siswa? Bagaimana dengan 118 siswa lainnya?”

Pertanyaan itu terus menghantui saya. Saya menyadari bahwa ada kesenjangan pengalaman belajar yang nyata antara siswa reguler dan siswa yang mengikuti pembinaan lomba. Bukan karena siswa reguler kurang mampu, tetapi karena kesempatan dan akses yang tidak sama. Saya tahu, sebagai guru, saya harus mengubah ini. Saya ingin semua anak, bukan hanya juara lomba, merasakan pengalaman belajar yang sama. Bukan karena saya ingin semua orang menjadi juara, tetapi karena setiap anak berhak mendapatkan pengalaman belajar terbaik yang bisa saya berikan.

Dari Material Bekas, Lahir Sebuah Mimpi

Di satu sisi, saya dihadapkan pada keterbatasan: ruang yang berpindah, alat yang berat, waktu persiapan yang panjang. Di sisi lain, saya memiliki satu aset yang selama ini terabaikan: material bekas kegiatan lomba dan praktik yang masih layak pakai. Papan triplex yang sudah tidak terpakai, kabel optik sisa kompetisi, konektor yang masih berfungsi—semua itu menumpuk di gudang, menunggu untuk dibuang.

Saya bertanya lagi: “Mengapa saya tidak mengubah limbah ini menjadi media pembelajaran?”

Maka lahirlah PORTENET STEM—Portable Network Teaching Kit. Saya merancang media praktik jaringan yang ringkas, ringan, mudah dipindahkan, dan siap pakai. Saya membersihkan papan triplex bekas, merakit komponen jaringan yang masih layak, menata kabel dan konektor menjadi sebuah panel praktik yang fungsional. Tidak ada yang istimewa secara teknis, tetapi ada satu hal yang membuatnya berbeda: media ini dirancang agar bisa digunakan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja—tanpa persiapan panjang.

Saya tidak berhenti di situ. Saya menyusun modul pembelajaran, lembar kerja peserta didik, dan skenario pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Siswa tidak sekadar memasang kabel, tetapi juga mengamati prinsip transmisi data, mengenali teknologi jaringan, merancang instalasi, dan melakukan pengukuran serta analisis. Saya ingin mereka merasakan pengalaman yang utuh—seperti yang dirasakan peserta lomba.

Saya menggunakan model pengembangan ADDIE: Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Sistematis, tetapi yang terpenting adalah keyakinan bahwa inovasi ini harus benar-benar menjawab kebutuhan siswa dan guru di lapangan. Dan yang paling penting, inovasi ini harus membawa standar kompetisi ke ruang kelas reguler.

Saat 118 Siswa Tidak Hanya Menonton

Pada semester genap Tahun Ajaran 2025/2026, saya mengimplementasikan PORTENET STEM dalam tiga kali pertemuan. 118 siswa dari lima rombongan belajar menggunakan media ini. Pertemuan pertama, saya memperkenalkan PORTENET STEM dan mendemonstrasikan penggunaannya. Siswa mengamati komponen dan jalur koneksi. Pertemuan kedua, mereka berkelompok melakukan praktik dasar: memahami struktur jaringan, mengenal kabel optik, dan simulasi instalasi sederhana. Pertemuan ketiga, mereka mengerjakan tugas berbasis proyek—analisis, perancangan, dan pemecahan masalah jaringan.

Dan kemudian, saya menyaksikan apa yang selama ini saya impikan: semua siswa bergerak, semua siswa terlibat, semua siswa merasakan pengalaman praktik yang mendalam. Tidak ada yang hanya duduk diam. Tidak ada yang hanya menonton. Mereka memegang kabel, memasang konektor, mengukur daya optik, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah bersama-sama.

Saya melihat siswa yang biasanya pendiam tiba-tiba berbicara lantang menjelaskan hasil pengukuran ke teman sekelompoknya. Saya melihat siswa yang sering kesulitan memahami teori akhirnya tersenyum karena konsep fiber optik yang abstrak menjadi konkret di tangannya. Saya melihat kolaborasi, tawa, dan semangat yang sulit saya temui di kelas teori.

Hasilnya tidak mengecewakan. Setelah implementasi, rata-rata capaian kompetensi siswa mencapai 87,98—melonjak dari 46 persen pada asesmen awal. Sebanyak 117 dari 118 siswa dinyatakan tuntas (KKM 75), atau 99,15 persen. Hanya satu siswa yang belum mencapai ketuntasan, dan itu pun dengan catatan bahwa ia membutuhkan pendampingan tambahan karena faktor lain di luar pembelajaran.

Angket yang saya bagikan kepada 80 siswa menunjukkan tingkat penerimaan dan kebermanfaatan sebesar 78,36 persen dengan kategori baik. Tiga guru observer memberikan penilaian rata-rata 83,33 persen dengan kategori sangat baik. Mereka mencatat bahwa PORTENET STEM meningkatkan keaktifan siswa, mempermudah pemahaman konsep, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan standar industri dan LKS.

Namun, yang paling membekas di hati saya bukanlah angka-angka itu. Yang paling membekas adalah momen ketika saya melihat siswa-siswa kelas X TJKT yang tadi saya ceritakan: bekerja dengan antusias, berdiskusi dengan serius, dan tertawa dengan lega ketika akhirnya berhasil memecahkan masalah yang mereka hadapi. Di mata mereka, saya melihat keadilan. Saya melihat kesempatan. Saya melihat masa depan.

Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Saya sering merenung: apa hubungan antara sebuah panel praktik sederhana dari material bekas dengan cita-cita besar Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur?

Hubungannya mungkin tidak tampak di permukaan. Namun, ketika saya melihat 118 siswa yang sebelumnya hanya menonton kini menjadi pelaku utama dalam pembelajaran, saya menemukan jawabannya.

Berdaulat berarti kemandirian. PORTENET STEM lahir bukan dari alat mahal impor, tetapi dari material bekas di sekitar saya. Saya tidak menunggu anggaran besar atau bantuan dari luar. Saya memanfaatkan apa yang ada dan mengubahnya menjadi solusi. Itulah kedaulatan—kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Jika seorang guru di SMK Telkom Purwokerto bisa melakukannya, maka guru di sekolah lain pun bisa. Inovasi ini mudah direplikasi—cukup dengan kemauan dan kreativitas memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Adil adalah alasan mengapa saya melakukan semua ini. Selama bertahun-tahun, pengalaman belajar terbaik—yang mengubah cara berpikir dan membentuk kompetensi—hanya untuk segelintir siswa peserta lomba. Mereka yang tidak terpilih, mereka yang tidak beruntung, mereka yang tidak terlihat—mereka tidak mendapatkan kesempatan yang sama. PORTENET STEM adalah upaya saya untuk memperbaiki ketidakadilan itu. Saya tidak ingin ada anak yang kehilangan potensinya hanya karena kesempatan tidak berpihak padanya. Saya ingin setiap anak, dari latar belakang mana pun, memiliki akses terhadap pengalaman belajar yang bermakna. Ketika 99,15 persen siswa tuntas, itu bukan sekadar angka. Itu adalah keadilan yang mulai terwujud.

Makmur adalah tujuan akhir dari semua ini. Siswa yang memiliki kompetensi yang kuat sejak kelas X akan lebih siap menghadapi tantangan di kelas XI, XII, dan dunia kerja. Mereka tidak akan tersisih, tidak akan ketinggalan, dan tidak akan kehilangan arah. Mereka akan tumbuh menjadi tenaga kerja yang terampil, yang mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Pendidikan vokasi adalah jalan menuju kemakmuran—bukan hanya kemakmuran individu, tetapi kemakmuran bangsa.

Saya tidak naif. Saya tahu bahwa satu media pembelajaran tidak akan mengubah Indonesia dalam semalam. Tetapi saya juga tahu bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan langkah kecil itu bisa dimulai dari ruang kelas, dari tangan seorang guru, dan dari keyakinan bahwa setiap anak layak mendapat yang terbaik.


Penutup

Suatu siang di ruang kelas X TJKT, saya menyaksikan 118 siswa tidak hanya menonton, tetapi merasakan sendiri pengalaman praktik yang dulu hanya untuk juara lomba. Saya melihat Faza berteriak “Pak, saya bisa!” dengan wajah penuh kebanggaan. Saya melihat sekelompok siswa berdiskusi sengit, mengulangi pengukuran, dan akhirnya tertawa lega. Saya melihat semangat yang menyala di mata mereka—semangat yang mungkin tidak akan pernah mereka rasakan jika saya tidak bergerak.

Saya tidak melakukannya sendirian. Ada dukungan dari sekolah, rekan guru, dan tentu saja, semangat dari siswa itu sendiri. Namun, pada akhirnya, saya melakukannya karena saya percaya: setiap anak berhak merasakan pengalaman belajar terbaik. Bukan hanya juara lomba. Bukan hanya mereka yang beruntung. Semua anak.

PORTENET STEM adalah simbol dari keyakinan itu. Sebuah panel sederhana dari material bekas, yang lahir dari kegelisahan seorang guru, yang membawa standar kompetisi ke ruang kelas reguler, dan yang membuka jalan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Kepada para guru, tenaga kependidikan, dan semua pihak yang membaca artikel ini: mari kita mulai dari hal kecil di sekitar kita. Inovasi tidak harus menunggu anggaran besar. Inovasi bisa dimulai dari memanfaatkan apa yang ada, dari mengubah keterbatasan menjadi peluang, dan dari keyakinan bahwa setiap anak layak mendapat yang terbaik. Karena pada akhirnya, inilah perjuangan kita: dari ruang kelas, mewujudkan Indonesia yang lebih baik.



Daftar Pustaka

Bybee, R. W. (2018). STEM education: Challenges and opportunities. Arlington, VA: NSTA Press.

Darling-Hammond, L., Flook, L., Cook-Harvey, C., Barron, B., & Osher, D. (2020). Implications for educational practice of the science of learning and development. Applied Developmental Science, 24(2), 97–140.

Hattie, J. (2023). Visible learning: The sequel. London: Routledge.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka pada pendidikan vokasi. Jakarta: Kemendikbudristek.

OECD. (2023). Education at a glance 2023: OECD indicators. Paris: OECD Publishing. Sugiyono. (2022). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

AOC Session 2

Abaca of Champion (AOC) Season 2 Days Hours Minutes Seconds Abaca of Champions Season 2…

Standar Kompetensi Lulusan PAUD

#standarkompetensilulusan#PAUD#standartingkatpencapaianperkembangananak#stppa